
Varian baru virus yang secara resmi dikenal sebagai BA.3.2, atau yang diberi nama Cicada (dibaca: sikada), telah tercatat di beberapa negara termasuk Amerika Serikat, Hong Kong, Mozambik, dan Inggris. Meski belum ada bukti bahwa varian ini lebih berbahaya dibandingkan galur lain, para ahli kesehatan global menekankan risiko lebih tinggi bagi anak-anak.
Menurut laporan dari organisasi kesehatan internasional, kasus Cicada mulai terdeteksi sejak awal 2026, dengan pola penyebaran yang mirip varian sebelumnya. “Belum ada indikasi bahwa BA.3.2 menyebabkan gejala parah atau tingkat kematian lebih tinggi, tetapi pengawasan ketat tetap diperlukan,” ujar seorang epidemiolog dari WHO dalam pernyataan resminya.
Yang menjadi perhatian utama adalah kerentanan anak-anak terhadap varian ini. Para ahli menjelaskan bahwa sistem kekebalan tubuh anak yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan mengalami komplikasi dibandingkan orang dewasa. “Orang tua disarankan untuk memantau gejala seperti demam tinggi, batuk, dan sesak napas pada anak, serta segera konsultasi medis,” tambah Dr. Lina Wijaya, pakar virologi dari Universitas Indonesia.
Hingga saat ini, belum ada laporan kasus Cicada di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI menyatakan sedang meningkatkan pengawasan genomik di bandara dan fasilitas kesehatan untuk mencegah masuknya varian ini. Masyarakat diimbau tetap patuh protokol kesehatan, seperti memakai masker di tempat ramai dan vaksinasi lengkap, terutama bagi kelompok rentan.
Para peneliti terus memantau evolusi varian Cicada, dengan harapan data lebih lengkap akan tersedia dalam waktu dekat. Update terbaru dapat diakses melalui situs resmi WHO dan Kemenkes RI.
