
Beirut/Lebanon – Seorang tentara Prancis tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka dalam serangan saat menjalani misi penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon selatan. Insiden ini terjadi ketika pasukan Prancis sedang melakukan tugas “membersihkan jalan” di wilayah yang rawan konflik.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan tegas mengutuk serangan tersebut sebagai “tidak dapat diterima”. Pernyataan dari kantor presiden, yang dilansir Reuters pada Minggu (19/4/2026), menyatakan kecaman atas kekerasan yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian.
Macron menyampaikan responsnya tersebut melalui pembicaraan telepon dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam. Diskusi itu menyoroti komitmen bersama untuk menjaga stabilitas di wilayah perbatasan Lebanon-Israel, di mana UNIFIL bertugas sejak 1978 untuk memantau gencatan senjata dan mencegah eskalasi konflik.
UNIFIL, yang dipimpin oleh sekitar 10.000 personel dari 50 negara, sering menghadapi ancaman di Lebanon selatan akibat ketegangan dengan kelompok bersenjata seperti Hizbullah. Identitas pelaku serangan belum diketahui, dan penyelidikan sedang dilakukan oleh pasukan PBB serta otoritas Lebanon.
Kantor Macron menekankan bahwa Prancis tetap berkomitmen mendukung misi perdamaian PBB, meski insiden ini menambah daftar korban di zona konflik. Belum ada pernyataan resmi dari pihak Lebanon terkait langkah selanjutnya.
