
Kiev, 25 Maret 2026 – Angkatan Udara Ukraina melaporkan serangan drone skala besar dari Rusia, dengan hampir 1.000 drone diluncurkan ke wilayah Ukraina dalam 24 jam terakhir. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa (24/3), menandai salah satu gelombang serangan udara paling intens sejak invasi Rusia dimulai pada 2022.
Menurut juru bicara Angkatan Udara Ukraina, Yuriy Ignat, serangan ini menargetkan berbagai fasilitas infrastruktur strategis, termasuk pembangkit listrik, jalur rel kereta api, dan pusat logistik di wilayah timur dan selatan Ukraina. “Ini adalah upaya Rusia untuk melemahkan pertahanan kami menjelang musim semi,” kata Ignat dalam konferensi pers virtual. Dari total drone yang diluncurkan, Ukraina berhasil menembak jatuh atau mengintersep sekitar 78% menggunakan sistem pertahanan udara seperti Patriot dan NASAMS.
Serangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang berkepanjangan. Rusia diketahui semakin mengandalkan drone murah seperti Shahed-136 yang diproduksi di Iran untuk menguras sumber daya pertahanan Ukraina. Respons Ukraina termasuk serangan balasan dengan drone FPV (First-Person View) ke posisi Rusia di wilayah Donbas, yang dilaporkan menghancurkan beberapa gudang amunisi.
Pemerintah Ukraina meminta bantuan darurat lebih lanjut dari sekutu Barat, khususnya pasokan rudal anti-drone dan baterai pertahanan udara. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan melalui Telegram, “Kami bertahan, tapi dunia harus bertindak lebih cepat untuk menghentikan teror ini.”
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia belum mengonfirmasi angka tersebut, hanya menyebut serangan sebagai “operasi khusus rutin” untuk “melindungi kepentingan nasional.” Hingga Rabu siang (25/3), korban jiwa dari serangan drone dilaporkan mencapai puluhan warga sipil dan personel militer Ukraina, dengan kerusakan infrastruktur yang masih dihitung.
Konflik ini terus menarik perhatian internasional, dengan NATO meningkatkan pengiriman bantuan senilai miliaran dolar AS sejak awal 2026.