
Jakarta, 14 Maret 2026 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih relatif stabil meskipun dunia dilanda dinamika geopolitik yang semakin memanas.
Menurut Purbaya, depresiasi rupiah sejak munculnya konflik geopolitik global tergolong sangat terbatas. “Memang dinamika global saat ini cukup bergejolak. Ada yang mengatakan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan. Namun jika kita lihat secara data, sejak konflik geopolitik terjadi, rupiah hanya terdepresiasi sekitar 0,3 persen,” ujarnya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran investor global akan eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur, yang berdampak pada pasar keuangan internasional. Purbaya menekankan ketahanan ekonomi Indonesia berkat cadangan devisa yang kuat dan kebijakan moneter Bank Indonesia yang proaktif.
Data Bank Indonesia per 13 Maret 2026 menunjukkan kurs rupiah berada di kisaran Rp15.800–Rp15.850 per dolar AS, hanya sedikit melemah dari level sebelumnya. Analis memuji respons cepat pemerintah dalam menjaga stabilitas, meski proyeksi IMF memperingatkan risiko pelemahan lebih lanjut jika konflik berkepanjangan.
Purbaya juga meminta masyarakat tidak terpengaruh narasi pesimis di media sosial. “Kita punya fondasi ekonomi yang solid. Fokus pada pertumbuhan domestik akan menjaga rupiah tetap kuat,” tambahnya.