
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) memperkirakan dibutuhkan waktu hingga enam bulan untuk membersihkan Selat Hormuz dari ranjau-ranjau yang dipasang Iran, sebuah proses yang berpotensi mempertahankan harga minyak dunia tetap tinggi dalam waktu dekat.
Iran telah hampir sepenuhnya memblokir jalur air vital tersebut sejak pecahnya perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan ini memicu lonjakan harga minyak dan gas global, serta mengganggu rantai pasok perekonomian dunia. Selat Hormuz, yang biasanya dilalui seperlima minyak dan gas dunia, kini sebagian besar tetap tertutup meski gencatan senjata rapuh sedang berlaku.
Dilansir Al Arabiya English pada Kamis (23/4/2026), Amerika Serikat bahkan memberlakukan blokade sendiri di wilayah tersebut untuk menjaga keamanan. Situasi ini memperburuk ketegangan di Timur Tengah, dengan dampak ekonomi yang meluas ke pasar energi Asia, termasuk Indonesia yang bergantung pada impor minyak melalui rute tersebut.
Para analis memperingatkan bahwa penundaan pembersihan ranjau bisa mendorong harga minyak Brent melebihi 100 dolar AS per barel, memicu inflasi global dan kenaikan harga BBM di berbagai negara. Saat ini, AS sedang mengerahkan tim khusus penjinak ranjau laut untuk operasi pembersihan, tapi tantangan logistik dan ancaman keamanan dari Iran memperlambat kemajuan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM menyatakan sedang memantau situasi ketat dan menyiapkan cadangan strategis untuk meredam dampak. “Kami berharap gencatan senjata ini membuka jalan normalisasi cepat,” ujar seorang juru bicara ESDM.
Perkembangan ini menambah ketidakpastian geopolitik, di mana perdagangan minyak melalui Selat Hormuz bernilai ratusan miliar dolar setiap tahunnya.
