
New York, 1 April 2026 – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar rapat darurat pada Selasa (31 Maret 2026) untuk merespons kematian tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam pasukan perdamaian UNIFIL di Lebanon. Insiden tragis ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di wilayah perbatasan Lebanon-Israel.
Ketiga prajurit TNI tersebut tewas akibat serangan roket yang menghantam posisi UNIFIL di selatan Lebanon. Identitas mereka belum dirilis secara resmi oleh Kementerian Pertahanan RI, tetapi dikonfirmasi sebagai bagian dari batalyon Indonesia yang bertugas menjaga gencatan senjata di kawasan Blue Line sejak 2024. Eskalasi konflik memanas sejak akhir 2025, dengan pertukaran tembakan rutin yang mengancam stabilitas regional.
Dalam rapat darurat PBB yang dipimpin oleh utusan tetap Indonesia, Riyanto Adam, delegasi RI menyuarakan kecaman keras. “Kematian putra bangsa ini adalah pukulan telak bagi upaya perdamaian dunia. Kami menuntut investigasi independen dan tanggung jawab penuh dari pihak-pihak yang terlibat,” tegas Riyanto, seperti dikutip dari siaran langsung PBB. Indonesia juga mendesak resolusi Dewan Keamanan untuk memperkuat mandat UNIFIL dan mencegah kekerasan lebih lanjut.
Menteri Luar Negeri RI, Sugeng Rahardjo, menyatakan duka cita mendalam melalui pernyataan resmi. “TNI kita bangga menjaga perdamaian dunia, tapi nyawa mereka tak boleh sia-sia. Pemerintah akan mengejar keadilan melalui forum internasional,” ujarnya di Jakarta. Ribuan warga Indonesia di media sosial ikut berduka, dengan tagar #DoaUntukPrajuritTNIUNIFIL menduduki trending topic.
UNIFIL, yang terdiri dari lebih dari 10.000 personel dari 50 negara, telah kehilangan 300 personel sejak didirikan pada 1978. Kontribusi Indonesia sebagai salah satu pengirim pasukan terbesar (sekitar 1.200 prajurit) menjadikan insiden ini yang paling tragis bagi RI. PBB berjanji akan meningkatkan perlindungan pasukan, sementara Israel dan Hizbullah saling tuding sebagai pelaku serangan.
Pemerintah Indonesia berencana mengirim delegasi tinggi ke Lebanon untuk mengurus pemulangan jenazah dan mengevaluasi keberlanjutan misi UNIFIL. Sementara itu, dunia menanti langkah konkret PBB untuk meredakan ketegangan yang berpotensi meluas.
