
Jakarta, 23 Maret 2026 – Pasar saham di Asia tertekan berat pada pembukaan perdagangan Senin ini, dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum tegas kepada Iran. Indeks utama seperti Nikkei 225 Jepang turun 3,2%, Hang Seng Hong Kong merosot 2,8%, dan Kospi Korea Selatan anjlok 2,5%, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia tertekan 1,9% pada awal sesi.
Ultimatum Trump, yang disampaikan melalui pidato darurat malam Minggu waktu Washington, menuntut Iran membuka akses penuh Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi “serangan militer yang tak terelakkan”. Pernyataan ini muncul di tengah laporan serangan rudal Iran terhadap kapal tanker di perairan tersebut, yang mengganggu 20% pasokan minyak dunia. “Kami tidak akan membiarkan agresi Iran mengancam alur energi global,” tegas Trump, memicu kekhawatiran investor akan potensi perang regional.
Reaksi pasar langsung terasa. Harga minyak Brent melonjak 8% ke US$95 per barel, mendorong inflasi global dan membuat investor beralih ke aset aman. Imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik ke 4,8%—level tertinggi dalam delapan bulan—seiring eksodus dari saham berisiko. Sektor energi dan pertahanan justru menguat, dengan saham Boeing naik 4% di pra-pasar AS.
Analis memperingatkan risiko stagflasi. “Ketegangan ini bisa memicu rally minyak berkepanjangan, tapi juga rem pertumbuhan ekonomi Asia yang bergantung impor energi murah,” kata Sarah Lim, ekonom di DBS Bank Singapura. Di Indonesia, saham BUMN energi seperti Pertamina turun 2%, sementara emas dan obligasi pemerintah naik tajam sebagai safe haven.
Investor global kini menanti respons Iran, yang disebut-sebut akan menggelar sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Bursa Asia diprediksi tetap volatil sepanjang pekan, dengan mata dunia tertuju pada tenggat 48 jam Trump.