
Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang diklaim sebagai kemenangan militer telak kini memicu gelombang krisis energi global yang jauh lebih dahsyat daripada konflik itu sendiri. Washington menyatakan lebih dari 6.000 target strategis di Iran telah dihancurkan, termasuk fasilitas nuklir utama dan markas militer kunci, yang membuat kemampuan nuklir Teheran lumpuh total. Puncaknya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur dalam serangan tersebut.
Presiden AS, dalam pidato kemenangannya, menegaskan bahwa operasi “Operation Iron Dawn” berhasil meniadakan ancaman nuklir Iran secara permanen. “Ini adalah pukulan mematikan bagi rezim yang telah lama mengancam stabilitas dunia,” ujarnya di Gedung Putih. Israel, mitra utama dalam serangan, juga mengonfirmasi kehancuran situs pengayaan uranium di Natanz dan Fordow, serta pusat komando Garda Revolusi Iran.
Namun, di balik klaim sukses militer itu, dunia kini bergulat dengan dampak ekonomi yang brutal. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 150% sejak serangan, mencapai rekor tertinggi US$200 per barel Brent crude. Iran, sebagai produsen minyak OPEC terbesar keempat, mengalami gangguan ekspor total akibat kerusakan infrastruktur kilang dan pelabuhan di Teluk Persia. Pasokan gas alam ke Eropa terputus, memaksa negara-negara seperti Jerman dan Italia menerapkan pemadaman listrik bergilir.
Krisis ini merembet ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Harga BBM naik 40% dalam dua minggu, memicu inflasi pangan dan protes massal di Jakarta serta Surabaya. “Konflik ini tak sebanding dengan penderitaan rakyat dunia,” kata ekonom senior Bank Dunia, menyoroti risiko resesi global jika pasokan energi tak pulih dalam enam bulan.
Reaksi internasional beragam. Rusia dan China mengecam serangan sebagai “agresi ilegal” dan mengancam sanksi balasan, sementara Uni Eropa mendesak gencatan senjata untuk stabilisasi pasar energi. Iran, di bawah pemerintahan sementara, bersumpah balas dendam melalui serangan siber dan proksi di Timur Tengah.
Para analis memperingatkan bahwa tanpa diplomasi cepat, krisis energi ini bisa memicu perang dagang global dan kelaparan di negara-negara berkembang. Sementara AS merayakan “kemenangan strategis”, dunia menanggung beban ekonomi yang tak terbayangkan.