
Teheran, 26 Maret 2026 – Pemerintah Iran secara mengejutkan membuka peluang untuk mengakhiri perang di Teluk Persia setelah menerima proposal damai dari Amerika Serikat (AS). Langkah ini diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, di tengah ketegangan Timur Tengah yang kian memanas akibat serangan rudal dan operasi militer lintas batas.
Dalam konferensi pers di Teheran hari ini, Abdollahian menyatakan bahwa proposal AS, yang diserahkan melalui perantara Oman, “mengandung elemen-elemen yang dapat dieksplorasi untuk de-eskalasi.” Proposal tersebut mencakup penarikan pasukan AS dari wilayah Teluk, jaminan keamanan bagi pelayaran internasional, serta pembekuan sanksi ekonomi terhadap Iran sebagai imbalan atas penghentian dukungan Tehran terhadap kelompok-kelompok militan di Yaman dan Lebanon. “Kami siap membahas opsi ini melalui saluran tidak langsung, tapi tidak ada niat untuk negosiasi tatap muka,” tegasnya, merujuk pada sejarah permusuhan panjang antara kedua negara sejak Revolusi Islam 1979.
Keputusan ini muncul setelah serangkaian insiden mematikan minggu lalu, termasuk serangan drone Iran terhadap kapal perang AS di Teluk Oman yang menewaskan 12 pelaut, dan balasan udara AS yang menghancurkan fasilitas rudal di pelabuhan Bandar Abbas. Konflik Teluk, yang meletus pada akhir 2025 akibat sengketa minyak dan pengaruh regional, telah menewaskan lebih dari 5.000 jiwa dan mengganggu 20% pasokan minyak dunia, memicu lonjakan harga BBM global hingga 40%.
Meski terbuka terhadap proposal, Iran menolak negosiasi langsung dengan AS, yang disebut sebagai “setan besar” oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. “Kami tidak akan berunding dengan musuh yang masih menduduki tanah suci Palestina,” ujar Khamenei dalam pidato kemarin. Sebagai gantinya, Teheran mengusulkan mediasi melalui PBB atau negara-negara Teluk seperti Qatar dan Uni Emirat Arab.
Reaksi internasional bercampur. Presiden AS Donald Trump – yang kembali menjabat sejak Januari lalu – menyambut positif via X (sebelumnya Twitter): “Iran akhirnya sadar. Mari akhiri kekacauan ini!” Sementara Rusia dan China, sekutu Iran, memperingatkan agar AS tidak memanfaatkan situasi untuk “hegemoni baru.” Harga minyak Brent langsung turun 5% menjadi US$85 per barel setelah pengumuman.
Para analis memandang ini sebagai titik balik potensial, meski tantangan tetap besar. “Iran butuh kemenangan domestik, AS butuh stabilisasi energi. Tapi tanpa dialog langsung, kemajuan akan lambat,” kata pakar Timur Tengah di Universitas Harvard, Vali Nasr. Situasi Teluk kini menjadi sorotan dunia, dengan harapan agar proposal ini membuka jalan damai sebelum konflik meluas ke Selat Hormuz.