
Jakarta – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (9/4/2026) setelah mengalami penurunan harian terbesar sejak April 2020. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Mengutip Bloomberg, harga minyak Brent melonjak ke kisaran US$97 per barel. Sebelumnya, pada perdagangan Rabu, harga tersebut anjlok hingga 13 persen akibat sentimen pasar yang negatif. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak mendekati level US$97 per barel, menandakan pemulihan cepat di pasar energi global.
Analis pasar menilai, pemulihan ini dipengaruhi oleh kekhawatiran pasokan minyak akibat ketegangan di Timur Tengah. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia, terus terganggu oleh isu keamanan maritim. “Volatilitas ini mencerminkan ketidakpastian geopolitik yang tinggi,” kata seorang analis dari lembaga riset energi, seperti dikutip Bloomberg.
Dampaknya dirasakan hingga ke pasar domestik Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memantau pergerakan harga ini untuk menjaga stabilitas BBM dan avtur. Seorang pengamat ekonomi memperingatkan bahwa fluktuasi harga minyak bisa memengaruhi inflasi dan biaya logistik nasional jika berlanjut.
Investor kini menanti data stok minyak AS dan perkembangan diplomasi di kawasan Timur Tengah untuk sinyal selanjutnya. Hingga penutupan perdagangan Eropa, Brent bertahan di atas US$96 per barel.
