
Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan sedang membahas kesepakatan gencatan senjata selama 45 hari sebagai langkah awal untuk mengakhiri konflik bersenjata yang memanas di Timur Tengah, menurut laporan eksklusif Axios pada Senin (6/4).
Sumber dekat dengan negosiasi yang dikutip Axios menyatakan bahwa pembicaraan ini difasilitasi oleh pihak ketiga netral, meski detail lokasi dan mediator belum diungkap. Gencatan senjata ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi dialog lebih lanjut, termasuk pembahasan soal program nuklir Iran dan sanksi ekonomi AS yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Latar belakang ketegangan mencapai puncak setelah serangkaian serangan rudal dan drone antara kedua negara sejak akhir 2025, yang menewaskan ratusan nyawa dan mengganggu pasokan minyak global. Harga minyak Brent sempat melonjak 15% pada Maret lalu akibat blokade Selat Hormuz.
Pemerintah AS belum mengonfirmasi laporan tersebut secara resmi, tetapi juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan, “Kami selalu terbuka terhadap diplomasi untuk mengurangi eskalasi.” Sementara itu, Tehran melalui media negara Iran menyebut adanya “kemungkinan jeda militer” tanpa menyebut durasi spesifik.
Reaksi internasional langsung mengalir. Sekutu AS seperti Israel memperingatkan agar tidak lengah terhadap ancaman Iran, sementara Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyambut positif upaya damai apa pun yang melibatkan PBB. “Stabilitas Timur Tengah krusial bagi ekonomi global, termasuk Indonesia sebagai importir minyak terbesar di Asia Tenggara,” ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam pernyataan singkat.
Jika terealisasi, gencatan senjata 45 hari ini bisa menjadi terobosan pertama sejak Perjanjian Nuklir JCPOA 2015 yang ditarik AS pada 2018. Pengamat memprediksi kesepakatan ini akan memengaruhi dinamika geopolitik, termasuk harga BBM di Indonesia yang diproyeksikan turun hingga Rp 500 per liter.
